tentang 2 bulan itu…..

Dua bulan internship atau perpanjangan koas atau apalah namanya itu,, ternyata menuai pro dan kontra. Persoalannya dengan perpanjangan itu berarti beberapa orang terpaksa mengatur ulang jadwalnya yang sudah di-planning sedemikian rupa. Disisi lain dari pihak yang berkuasa merasa bahwa program ini justru merupakan hutang mereka kepada kami (mahasiswa) yang harus dibayar. Dalam rancangan awalnya pendidikan kedokteran ditempuh dalam waktu 6 tahun dengan komposisi 4 tahun kuliah dan 2 tahun koas. Sementara angkatanku hanya 5 tahun; 3,4 tahun kuliah dan 1,5 tahun koas. Sehingga selisih 1 tahun tersebut, kata ‘yang berwenang’ harusnya dipakai untuk internship. Penguasa terdahulu tidak mempertimbangkan hal itu (dan penguasa sekarang minta maaf [??] akan hal itu). Setelah penguasa baru muncul, mereka merasa bahwa ini adalah kewajiban mereka untuk membuat program tersebut. Mengapa dua bulan?, angka keramat (2)? Hasil kompromi jawabnya (Hmm, still didn’t get the point). Dan perpanjangan 2 bulan itu sepertinya sudah jadi harga mati. Pertemuan kita kemaren sore hanya sosialisasi, pemaparan program, konsep internship, walaupun tampaknya yang bikin kebijakan juga belum bisa memastikan tanggal, tempat fix-nya serta impact-nya terhadap sumpah dan UKDI. Aku, dengan pengalamanku sampai saat ini, sebenarnya merasa belum siap terjun ke klinis. Alangkah baiknya jika yang dua bulan tadi bisa menambah skills, kompetensi, pengalaman, kepercayaan diri, dan nilai tambah buat kami. Tapi aku juga tidak rela jika gara-gara 2 bulan itu kami menjadi tidak bisa mengikuti sumpah November dan UKDI setelahnya. Bukan apa-apa tapi, kalo dihitung-hitung, selesai koas 5 September, lalu tambah 2 bulan, dengan asumsi bahwa internship tersebut dilaksanakan segera setelahnya, maka selesai bulan November (sepertinya gak akan bisa ngejar ikut sumpah bulan itu). Akibatnya kami harus menunggu sumpah yg bulan Februari (karena cuma ada 2x dalam setahun). What we’re supposed to do in the mean time?? Luntang lantung gak jelas, mo kerja belum legal, karena belum jadi dokter. Kalo mau apply scholarship dll juga belum bisa, belum dapat ijazah. Kalau kata mereka, cobalah ber-positive thinking. Hidup tidak cuma tentang koas dan yang bersangkut paut dengannya. Mungkin dengan dua bulan lowong itu, kita bisa lebih dekat dengan keluarga (krn selama ini terlalu sibuk koas??), bisa membantu ibu di rumah, bisa jadi kesempatan buat mencari jodoh (oops, tet toot!), bisa mencoba hal-hal lain,hobi, dan bla3… Perjalanan masih panjang, waktu luang menunggu sumpah itu tidak akan jadi masalah, bla3… Well, nice try! Sebelumnya terlontar pernyataan bahwa, kita tetep bisa sumpah dan ikut UKDI setelah selesai rotasi klinik, tanpa memandang kapan internship itu dilaksanakan. Artinya saat internship berlangsung kita bisa ijin untuk ikut sumpah November, dan UKDI. Hmm,, kalau begitu ceritanya aku setuju, sayangnya belum ada jaminan akan hal itu, yang berkuasa tampaknya belum bisa menegaskannya. Trus gimana?? masih ngambang. Padahal beberapa orang punya harapan lebih, misalnya internship itu disamakan dengan pengalaman kerja klinis. Kaitannya dengan pengambilan PPDS, di UGM peserta PPDS wajib punya pengalaman klinis minimal 1 tahun. Jadi dengan internship, kita tinggal menambah 10 bulan saja. Juga masalah membayar atau dibayar. Apakah (lagi-lagi) kita harus membayar? Atau karena kita disana “berkerja”, sewajarnya kita diberi reward, atau setidak-tidaknya impas, kita berkontribusi di sana, dan mereka memberikan kita pengalaman klinis yang berharga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: